Indahnya Saling Memaafkan dan Kaitannya dengan Kesehatan – Di dalam  Al-Quran dan hadis banyak keterangan yang memuji sifat pemaaf. Bahkan Allah SWT memiliki sifat pemaaf yang disebutkan di Asmaul Husna. Secara psikologis, saling memaafkan itu sehat dan menyehatkan. Ingin tahu lebih jauh mengenai ini? Yuk, simak di artikel berikut ya.

Tahukah Anda bahwa yang mendapatkan keuntungan utama dari sikap memaafkan adalah pihak yang memaafkan, bukan yang dimaafkan. Ketika seseorang memaafkan orang yang dibenci, seketika itu juga beban emosinya akan berkurang drastis.

Berat atau ringannya memaafkan orang itu, berkaitan pula dengan besar kecilnya rasa kesal dan dendam manusia. Maka semakin dalam rasa kesal, benci dan permusuhan pada seseorang atau sekelompok orang, semakin berat pula manusia mau memaafkan.

Namun, jika sanggup memaafkan akan muncul rasa lega, dada terasa lapang. Bukankah menyimpan rasa benci dan dendam merupakan beban di mana saja manusia berada?

Rasa benci itu juga bagaikan luka. Dan bila kebencian berubah menjadi dendam untuk menuntut balas, maka luka semakin perih sebelum dendam itu terlaksana.

Ketika dendam terlaksana, apakah luka dan beban yang dipikul akan hilang?

Pengalaman sehari-hari mengatakan ‘tidak’ dan permusuhan semakin meruncing. Sehingga luka makin menyayat hati yang telah diliputi dendam kesumat.

Jadi, bukankah memaafkan itu adalah bentuk terapi untuk kesehatan manusia?

Begitu mampu memaafkan seseorang atau mereka yang ‘melukai’ Anda, maka akan berkurang pula luka di hati.

Bila kebencian serta dendam telah hilang, kehidupan pun berubah menyenangkan.

Orang yang memelihara kebencian dalam dirinya, sama halnya dengan orang yang memelihara penyakit. Kuncinya jika ingin hidup sehat, jadilah pribadi yang pemaaf!

Di Indonesia, tradisi saling memaafkan massal dikemas dalam acara penting seperti Hari Raya Idul Fitri. Bahkan dalam istilah agama, Idul Fitri berarti doa, cita dan harapan, bahwa mereka yang telah menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh, kemudian bermaafan di hari raya ini.

Alangkah indahnya apabila di lingkungan keluarga dan pergaulan Anda, selalu terjalin hubungan cinta kasih yang tulus. Ketika setiap pribadi siap memaafkan pribadi lainnya.

Pribadi yang tumbuh dalam lingkungan penuh cinta kasih, biasanya akan tumbuh menjadi manusia yang sehat. Dan memaafkan itu merupakan cerminan kebesaran jiwa seseorang dan sekaligus mendatangkan kebahagiaan bagi kedua belah pihak. Jadi, sebelum beribadah di bulan Ramadan, siapkah saling memaafkan?

Di dalam  Al-Quran dan hadis banyak keterangan yang memuji sifat pemaaf. Bahkan Allah SWT memiliki sifat pemaaf yang disebutkan di Asmaul Husna. Secara psikologis, saling memaafkan itu sehat dan menyehatkan. Ingin tahu lebih jauh mengenai ini? Yuk, simak di artikel berikut ya.

Tahukah Anda bahwa yang mendapatkan keuntungan utama dari sikap memaafkan adalah pihak yang memaafkan, bukan yang dimaafkan. Ketika seseorang memaafkan orang yang dibenci, seketika itu juga beban emosinya akan berkurang drastis.

Berat atau ringannya memaafkan orang itu, berkaitan pula dengan besar kecilnya rasa kesal dan dendam manusia. Maka semakin dalam rasa kesal, benci dan permusuhan pada seseorang atau sekelompok orang, semakin berat pula manusia mau memaafkan.

Namun, jika sanggup memaafkan akan muncul rasa lega, dada terasa lapang. Bukankah menyimpan rasa benci dan dendam merupakan beban di mana saja manusia berada?

Rasa benci itu juga bagaikan luka. Dan bila kebencian berubah menjadi dendam untuk menuntut balas, maka luka semakin perih sebelum dendam itu terlaksana.

Ketika dendam terlaksana, apakah luka dan beban yang dipikul akan hilang?

Pengalaman sehari-hari mengatakan ‘tidak’ dan permusuhan semakin meruncing. Sehingga luka makin menyayat hati yang telah diliputi dendam kesumat.

Jadi, bukankah memaafkan itu adalah bentuk terapi untuk kesehatan manusia?

Begitu mampu memaafkan seseorang atau mereka yang ‘melukai’ Anda, maka akan berkurang pula luka di hati.

Bila kebencian serta dendam telah hilang, kehidupan pun berubah menyenangkan.

Orang yang memelihara kebencian dalam dirinya, sama halnya dengan orang yang memelihara penyakit. Kuncinya jika ingin hidup sehat, jadilah pribadi yang pemaaf!

Di Indonesia, tradisi saling memaafkan massal dikemas dalam acara penting seperti Hari Raya Idul Fitri. Bahkan dalam istilah agama, Idul Fitri berarti doa, cita dan harapan, bahwa mereka yang telah menyelesaikan ibadah puasa selama sebulan penuh, kemudian bermaafan di hari raya ini.

Alangkah indahnya apabila di lingkungan keluarga dan pergaulan Anda, selalu terjalin hubungan cinta kasih yang tulus. Ketika setiap pribadi siap memaafkan pribadi lainnya.

Pribadi yang tumbuh dalam lingkungan penuh cinta kasih, biasanya akan tumbuh menjadi manusia yang sehat. Dan memaafkan itu merupakan cerminan kebesaran jiwa seseorang dan sekaligus mendatangkan kebahagiaan bagi kedua belah pihak. Jadi, sebelum beribadah di bulan Ramadan, siapkah saling memaafkan?

Pin It on Pinterest

Share This